Selasa, 20 September 2011

Semua Amalan Tergantung Pada Niatnya


sedekah_pohon_16.jpg
Mukadimah:
Kaidah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masalah hati dan niat, mengapa demikian? Karena hati adalah kunci utama amalan kita, dan niat adalah ruh penggerak jasad kita. Kita hanya akan mendapat pahala ketika kita niatkan amalan itu karena Alloh, sebagaimana sabda Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-:
عن سعد بن أبي وقاص قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن يؤجر في كل شيء،[1] حتى في اللقمة يرفعها إلى في امرأته. (رواه أحمد وغيره وقال الأرناؤوط إسناده حسن)ـ
Seorang mukmin bisa mendapat pahala dari segala sesuatu (dengan niat yg baik), hingga suapan yang ia masukkan ke mulut istrinya. (HR. Ahmad dan yang lainnya, dihasankan oleh Al-Arna’uth)
Dengan niat yang baik, amalan yang sederhana bisa menghasilkan pahala yang agung. Tidak asing bagi kita, kenapa sahabat Abu Bakar mengungguli sahabat-sahabat yang lainnya? Seorang tabi’in, Bakr ibnu Abdillah al-Muzaniy mengatakan:
إن أبا بكر رضي الله عنه لم يفضل الناس بكثرة صلاة، إنما فضلكم بشيء كان في قلبه (صحيح موقوف على بكر بن عبد الله المزني)ـ
Sungguh! tidaklah Abu Bakar itu mengungguli orang-orang dengan banyaknya amalan sholatnya, tapi beliau mengungguli kalian itu dengan apa yang ada di hatinya.
Sebaliknya karena niat yang salah, amalan yang besar sekalipun, bisa jadi hanya seperti debu yang beterbangan. sebagaimana firman Alloh swt:
وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا
(Ingatlah pada hari kiamat nanti) akan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.
Terlalu banyak ayat maupun hadits yang menunjukkan betapa pentingnya kita memperhatikan hati dan niat kita, sebagai misal saja:
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين (وكل آية في قرن العبادة أو الدعاء بالإخلاص فإنها دليل على هذه القاعدة)ـ
Alloh berfirman: “Mereka tidak diperintah, melainkan untuk menyembah Alloh dengan ikhlas semata-mata karena menjalankan agama-Nya” (Al-Bayyinah:5)… (Semua ayat yang menggabungkan ibadah atau doa dengan ikhlas, bisa menjadi dalil untuk kaidah ini).
وعن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله لا ينظر إلى أجسادكم، ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم” (رواه مسلم)ـ
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “sesungguhnya Alloh tidak melihat jasad dan rupa kalian, tapi yang Dia lihat adalah hati kalian” (HR. Muslim)
إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي وقال هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وصححه الألباني)ـ
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Dunia ini, hanya untuk empat orang:
(1) Hamba yang Alloh beri harta dan ilmu, lalu dengannya ia bertakwa pada Tuhannya, menyambung tali silaturahim, dan menunaikan hak Alloh pada hartanya (zakat), maka orang seperti ini berada di posisi paling tinggi.
(2) Hamba yang Alloh beri Ilmu tanpa harta, akan tetapi ia baik niatnya, ia berkata: ‘Seandainya aku punya harta, tentu aku beramal seperti amal baiknya si fulan (yang kaya)’, maka orang seperti ini dapat pahala sebagaimana niatnya, sehingga kedua orang ini pahalanya sama.
(3) Hamba yang Alloh beri harta tanpa ilmu, lalu ia sembrono dalam menggunakan hartanya tanpa dasar ilmu, sehingga ia tidak bertakwa pada tuhannya dalam menggunakannya, tidak menyambung tali silaturrohim, dan tidak menunaikan hak Alloh pada hartanya (zakat), maka orang seperti ini berada di posisi paling buruk (bawah).
(4) dan Hamba yang tidak diberi harta dan ilmu, (serta buruk niatnya), ia mengatakan: ‘Seandainya aku punya harta, tentu aku akan gunakan sebagaiman si fulan menggunakannya’, maka orang seperti ini menuai dosa karena niatnya, sehingga kedua orang ini dosanya sama”.
(HR. Tirmidzi, ia mengatakan: Hasan Shohih, dishohihkan pula oleh Albani).
Ini merupakan kaidah yang sangat agung, ia masuk dalam separoh syariat Islam, mengapa demikian? Karena syariat Islam terbagi menjadi dua: Syariat yang mengatur amalan lahiriyah, dan syariat yang mengatur amalan batiniyah, dan kaidah ini sebagai pengatur amalan batiniyah, yaitu niat.
Para Ulama salaf mengetahui benar hal ini, oleh karenanya mereka sangat serius dalam memperbaiki niatnya. Renungkanlah atsar-atsar berikut ini:
  • Yahya ibnu Katsir: (تعلّموا النية، فإنه أبلغُ من العمل) pelajarilah masalah niat, karena itu lebih penting daripada amalan.
  • Zabid al-Yami: (إني لأُحِبُّ أن تكون لي نيةٌ في كل شيءٍ حتى في الطعام والشراب) sungguh aku senang, untuk meniatkan segala sesuatunya (untuk ibadah), meskipun dalam hal makan dan minum.
  • Dawud at-Tho’i: (رأيت الخيرَ كلَّه، إنما يجمعُه حسنُ النية) aku melihat, segala kebaikan hanya terkumpul dalam niat yang baik.
  • Sufyan at-Tsauriy: (ما عالَجْتُ شيئاً أشدَّ عليّ من نيّتِي، لأنها تتقلَّبُ عليّ) tidak ada yang lebih berat bagiku melebihi beratnya mengobati niatku, karena ia selalu berubah-rubah dalam diriku.
  • Yusuf bin Asbath: (تخليصُ النية من فسادها أشدُّ على العالِمين من طول الاجتهاد) membersihkan niat dari kotoran, lebih berat daripada istiqomah dalam amal ibadah.
  • Muthorrif ibnu Abdillah: (صلاحُ القلبِ بصلاحِ العمل, وصلاحُ العمل بصلاح النية) hati yang baik adalah karena amal yang baik, dan amal yang baik adalah karena niat yang baik.
  • Abdulloh bin Mubarok: (رُبَّ عملٍ صغيرٍ تُعَظِّمه النية, ورُبَّ عملٍ كبيرٍ تُصَغِّرُه النية) betapa banyak amalan yang sepele menjadi besar karena niatnya, sebaliknya betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niatnya.
  • Ibnu ’Ajlan: (لا يصلح العملُ إلا بثلاث: التقوى لِلّه, والنيةُ الحسنة, والإصابةُ) Amal tidak akan menjadi baik kecuali dengan tiga syarat: takwa, niat yang baik dan benar dalam melakukannya.
  • Fudhoil bin ’Iyadh: (إنما يريد الله منك نيتك وإرادتك) Sesungguhnya yang Alloh inginkan darimu adalah niat dan tujuanmu.
  • Beliau juga mengatakan:
(إن العملَ إذا كان خالصاً ولم يكن صواباً لم يُقْبَل, وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا، لم يُقْبَل حتى يكون خالصا صوابا)
Sesungguhnya amal yang ikhlas tapi tidak benar, ia tidak akan diterima, begitu pula ketika amal itu benar tapi tidak ikhlas… Ia tidak akan diterima hingga menjadi amal yang ikhlas dan benar. (Ikhlas jika dilakukan karena Alloh, dan benar jika dilakukan sesuai tuntunan).
Begitulah para salafus sholeh, mereka tidak berkata dan bertindak kecuali setelah menghadirkan niat yang baik, sehingga menjadi berkah ucapan, perbuatan dan umur mereka. Mereka menjadi teladan dalam amalannya, karena mereka lebih dulu menjadi teladan dalam memperbaiki niatnya. Sungguh mereka tidak asal-asalan dalam beramal, tapi amal mereka muncul dari hati yang bersih, suci, dipenuhi iman, takwa dan rasa takut pada Alloh ta’ala, dan tentunya amal mereka itu muncul dari pemahaman yang mendalam tentang kitab dan sunnah.
Itulah yang membuat mereka beda dengan kita, padahal puasa mereka sepintas sama seperti puasa kita, begitu pula sholatnya, sama seperti sholat kita, hanya saja niat dan tujuan yang jelas jauh berbeda.
Oleh karena itu, hendaklah kita benar-benar memperhatikan masalah niat ini, Pahala niat sangat agung, begitu bahanyanya sangat besar. Amal kita ibarat jasad, sedangkan niat adalah nyawanya, dan tiada guna jasad tanpa ada nyawa. Amal kita juga ibarat pohon, sedangkan niat adalah akarnya, dan pohon tidak akan tumbuh dengan baik tanpa akar yang kokoh.
Itulah sebabnya kita merasa berat dalam melakukan ibadah, mengapa? Karena kita tidak menghadirkan niat yang tulus dalam beribadah. Wallohul musta’an.
Nash-nash diatas, secara tidak langsung, juga menunjukkan pentingnya kita mempelajari kaidah pertama ini: “segala sesuatu tergantung pada tujuannya”.
Dari manakah para ulama menyimpulkan kaidah ini?
Dari banyak nash-nash syar’i, baik dari Alqur’an maupun Sunnah… Dan nash yang paling mirip dengan bunyi kaidah ini adalah hadits yang sangat masyhur, yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khottob ـ: (قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات)ـ semua amalan itu tergantung niatnya.
Bahkan sebagian ulama mengatakan, bahwa Lafal hadits ini lebih baik dan lebih mengena dibandingkan lafal kaidah tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnus Subkiy dalam kitabnya al-Asybah wan Nadho’ir (1/54).
Apa arti kaidah ini?
(الأمور) adalah bentuk jamak (plural) dari kata (الأمر) dan makna kata tersebut dalam bahasa arab banyak, diantaranya: perintah, keadaan, sesuatu, perbuatan. Dan yang dimaksud (الأمر) dalam lafal kaidah ini adalah: (الفعل والعمل)[2] yaitu perbuatan, dan ia mencakup perbuatan lisan dan anggota badan lainnya.
(مقاصد) adalah bentuk plural (jamak) dari kata (مقصد) yang berarti (النية),[3] dan definisi niat adalah: dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang dikehendakinya.
Dari keterangan ini, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa arti dari kaidah ini, dilihat dari susunan katanya adalah: Semua amalan itu tergantung niatnya, dan makna ini sama persis dengan makna lafal hadits (الأعمال بالنيات). Karena maknanya sama, maka penggunaan lafal nabawi (الأعمال بالنيات), lebih utama ketimbang menggunakan lafal non nabawi, seperti (الأمور بمقاصدها), wallohu a’lam.
Maksud kaidah ini adalah, bahwa semua amalan seseorang, (baik ucapan maupun perbuatan, baik amalan duniawi maupun ukhrowi), akan berbeda hasil dan hukumnya, sesuai dengan maksud dan tujuan orang yang melakukannya.

Rabu, 07 September 2011

Pelangi Selepas Hujan




Seringkali hati kecil mengaduh sakit, seringkali jiwa meratap hiba. Dugaan dan ujian yang bertimpa-timpa, kadangkala menewaskan semangat yang ada. Kadangkala kita berasa sendirian dan terasa betapa kita dipinggirkan. Ketika kita menyangka sudah tidak ada lagi yang bernilai dalam kehidupan dan yang kita lihat hanyalah jalan suram di hadapan.

Lantas kita marah kepada Tuhan, kita kecewa dengan ketentuan yang diciptakan. Kita menyalahkan takdir hitam dan saat itu sendu airmata mengaburkan kewarasan. Lalu kita hilang pertimbangan, di antara keimanan dan rasukan syaitan. Kita hanya nampak jalan mudah untuk melepaskan diri, lalu ada yang seringkali memilih kematian sebagai penyelesaian.

Pernahkah sekali kita memahami alam.

" Mengapa Tuhan hadirkan pelangi selepas hujan? "
 
" Mengapa Tuhan tumbuhkan bunga selepas kering-kontang? "

Hanya daripada benih hitam yang kusam, apabila disirami hujan lantas berbunga cantik. Maka tersenyumlah alam. Betapa indahnya aturan Tuhan.

" Mengapa tidak ada hujan berpanjangan atau sinar mentari yang menyinari alam? "

" Mengapa harus ada putaran alam seperti hitam malam dihiasi bintang? "

" Mengapa untuk tidak ada sekaligus dalam satu masa? "

" Mengapa harus hilang sesuatu untuk sesuatu? "

Jawabnya, SENANG.

Kerana tidak ada kemanisan tanpa ada kepahitan, dugaan dan rintanganlah yang mewarnai kehidupan. Mengecapi kebahagiaan memerlukan adanya pengorbanan. Setiap kesenangan akan ada bayaran contohnya seperti Tuhan hadirkan pelangi selepas hujan dan kicau burung yang menyanyikan kedamaian.

" Biar hujan di dalam hati, pasti ada pelangi yang menanti. Insyaallah. "

Rahmat Sebalik Ujian



Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kita, siapa di antara kita yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Allah telah memuliakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan. Dia menghantar Rasul-Nya untuk mengeluarkan manusia daripada gelap gelita kepada cahaya terang benderang, menuju Tuhan. Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan dan bersebab.
Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Selawat dan salam buat Rasul junjungan, yang telah dihantar oleh Allah kepada Umat Manusia sebagai satu anugerah, membawa Rahmah ke seluruh pelosok alam. Demi Allah, sungguh tidak akan sesat orang yang berpegang pada tali agama Allah, menggigit Al-Quran dan Sunnah dengan gigi gerahamnya dan dia sama sekali tidak pernah mencari selainnya sebagai sesuatu yang lebih agung dan lebih utama.

Hidup ini adalah satu medan ujian. Dunia ini hanyalah sebuah persinggahan dan bukan destinasi. Sebuah perhentian dan bukan pengakhiran. Tanpa ujian, manusia takkan pernah terhantuk dan tengadah, bahkan akan terus lalai dengan dunianya sendiri yang penuh dengan angan-angan, hiasan syaitan. Ujian adalah satu bentuk interaksi antara Allah dan kita. Ujian membuatkan kita mendongak ke langit, menadah tangan memohon perhatian Tuhan. Kita selalu lupa, namun Allah tak pernah sekali-kali lalai daripada hamba-Nya.

Di hujung ujian ada Rahmat yang disediakan buat orang-orang yang berjaya, dan penyesalan buat orang-orang yang gagal. Jika kita tak pernah memahami atau cuba untuk mengerti hakikat ini, maka kita akan terus terkandas dalam ujian. Ujian demi ujian, keluhan demi keluhan, hidup terus berjalan dengan tertekan, tak pernah merasakan kenikmatan di sebalik ujian. Maka kita sangat perlu memahaminya, bahawa Rahmat Allah menanti di sebalik sesebuah ujian. Ujian itu takkan pernah hilang daripada papan cerita kehidupan ini.

Ujian membawa kita semakin dekat dengan pemberi ujian, mungkin juga sebaliknya. Ujian adalah lambang kasih sayang pencipta. Itu tanda Allah sentiasa mengambil berat dan tak pernah meninggalkan kita sendirian, kita bagaimana?




Ujian dan Iman

Firman Allah dalam surah Al-‘Ankabuut Ayat yang ke-2, ertinya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”


Ayat ini menggambarkan kepada kita betapa iman itu berkait rapat dengan ujian. Kenikmatan iman itu dikecapi setelah kita berjaya melalui beberapa siri ujian yang telah ditetapkan oleh Allah. Semakin hebat ujian, semakin manis iman yang bakal kita rasai di penghujungnya, bagi orang-orang yang berjaya melaluinya. Jika kita gagal menempuhinya dengan baik, kita akan terus diberi peluang dan didatangkan lagi dengan ujian-ujian yang lain. Kita akan semakin tersasar jika kita terus menerus gagal dan tak belajar menjadi lebih baik. Allah itu begitu Maha Pengasih dan masih memberi ruang kepada kita belajar daripada ujian.

Firman Allah lagi dalam surah Al-‘Ankabuut Ayat yang ke-3, ertinya:

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”


Iman itu memerlukan pembuktian. Seberat-berat ujian yang pernah kita alami, tak mungkin seberat Bilal Bin Rabah R.A. tatkala menampung batu besar di terik panas matahari padang pasir. Khabbab Bin ‘Arath R.A. begitu terseksa saat besi panas yang membara di atas kepalanya membakar dan menghanguskannya. Namun, mereka telah membuktikan keimanan mereka dan Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta. Di hujung penderitaan yang dialami generasi awal Islam itu, mereka mengakhiri kehidupan menuju alam abadi dengan penuh ketenangan.

Ujian itu adalah tempaan Allah buat orang-orang beriman. Pedang yang hebat takkan terbentuk jika tidak diketuk, dipanaskan dan ditempa dengan baik. Maka kita beruntung kerana Allah akan mengangkat darjat kita dengan ujian yang diturunkannya. Allah ingin memberikan berita gembira kepada kita jika kita bersabar atas ujian yang kita hadapi.

Lihatlah Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah Ayat 155-156, ertinya:


“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Kita milik Allah dan kepada-Nya kita dikembalikan)””

Ujian Pelbagai Bentuk

Tahap ujian yang ditimpakan oleh Allah kepada manusia itu berbeza-beza, berdasarkan kepada keimanannya. Bentuk ujian itu juga pelbagai. Ada orang diuji dengan wanita, yang lainnya dengan harta, anak-anak, kesusahan, kawan-kawan dan sebagainya. Bagi para pelajar, peperiksaan itu juga satu bentuk ujian. Hakikatnya, kehidupan ini sendiri keseluruhannya adalah medan ujian, akhirat nanti medan ganjaran.

Biar apa juga bentuk ujian yang kita alami, Rahmat Allah tetap akan mengiringi jika kita menghadapinya dengan penuh sabar dan pengharapan kepada Allah. Allah sangat-sangat suka jika hamba-Nya mengadu kepada-Nya, menitiskan air mata di balik tirai malam dan mengakui kelemahannya. Tidak dapat tidak, ujian itu harus dilalui dengan penuh pengharapan kepada pertolongan Allah, kebergantungan yang sepenuhnya kepada pemilik diri kita. Jika tidak, kita akan buntu mencari jalan, kerana hanya Dia penunjuk jalan.

Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah Ayat 153, ertinya:


“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan Solat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”


Ayat ini begitu dalam maknanya bagi orang-orang yang ingin memahami, dan begitu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Sabar dan Solat itu kunci dalam memohon pertolongan Allah. Sampai bila kita harus bersabar? Sampai Allah memberikan pertolongan. Selagi kita diuji, selagi itulah kita bersabar.

Rasulullah adalah orang yang paling hebat kesabarannya bahkan paling besar ujiannya. Dan baginda jugalah yang paling mulia di sisi Allah di kalangan seluruh Umat manusia. Maka ujian itu sememangnya menuntut kesabaran, dan kesabaran akan mengangkat darjat seorang manusia.

“Dari Abu Hurairah R.A., ada seorang lelaki berkata kepada Nabi S.A.W., “Berilah aku wasiat.” Rasulullah S.A.W. bersabda, “Jangan marah!” Beliau mengulang-ulang beberapa kali ucapan, “Jangan marah!” (HR Bukhari)

Kesimpulannya, ujian itu pasti. Pergantungan kepada Allahlah yang akan membuatkan kita tenang menghadapinya. Mungkin kita sudah puas membaca, sekarang mari kita sama-sama merasa. Wallahua’lam.

Secekal Al-Fateh Segagah Al-Ayyubi



Bayu Bosphorus1 bertiup manja. Kadang-kadang nakal menampar-nampar lembut wajah Fateh. Bau masin laut menerawang di ruang udara. Berebut-rebut menerobos indera hidunya. Indera lihatnya tidak puas-puas merakam keindahan pagi di tebing Bosphorus walaupun acapkali dia ke mari. Bogaziçi, begitulah gelaran untuk selat ini dalam bahasa Turki. Dari jauh sayup-sayup kelihatan pelabuhan Golden Horn. Di pelabuhan itulah suatu ketika dulu 70 buah kapal milik pasukan tentera Sultan Muhammad Al-Fateh mendarat. Gempar Maharaja Konstantine ketika itu. Apa tidaknya, kapal-kapal itu dipindahkan menggunakan jalan darat. Kapal-kapal itu diluncurkan melalui Semenanjung Fera sejauh tiga batu sebelum sampai ke Pelabuhan Golden Horn. Sungguh, Sultan Muhammad Al-Fateh berjaya menukar daratan menjadi lautan, melayarkan kapalnya di puncak gunung dan bukan di ombak lautan. Dalam-dalam Fateh manarik nafas. Matanya kejap dipejam. Seolah-olah mencari semangat Sultan Muhammad Al-Fateh yang masih tersisa di selat itu.

“Setiap kita harus menjadi secekal Al-Fateh dan segagah Al-Ayyubi andai kita mahu menawan kembali Baitul Maqdis. Palestin hari ini ialah Konstantinopel2. Setiap umat Islam seharusnya bercita-cita untuk menjadi Al-Fateh dan paling tidak pun menjadi seperti tentera-tenteranya. Bukankah Sultan Muhammad Al-Fateh itu sebaik-baik raja yang memimpin sebaik-baik tentera?”

Kata-kata Safiyya bersipongang3 di segenap jihat4 fikiran Fateh. Atma5nya dijentik sebak.

sultan

“Bagaimana tanganmu, Safiyya? Masih sakit lagi?” sapa Fateh. Dalam kesibukan merawat pesakit-pesakit di musytasyfa6, Fateh sempat lagi mencuri ruang menjenguk Safiyya. Keadaan dalam hospital semakin sesak. Setiap inci tempat ada sahaja batang tubuh yang terbaring memerlukan bantuan perubatan. Entah sampai bila bangunan Musytasyfa al-Syifa ini boleh terus berdiri untuk menampung jumlah pesakit yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut.

Safiyya sekadar menguntum senyum pada pemuda berkumis nipis berjanggut pandak7 itu. Fateh memeriksa keadaan tangan Safiyya.


“Andai aku hilang tangan kanan, aku masih punya tangan kiri untuk terus berjuang,”  mata Safiyya bersinar galak. Tiada tergambar garis-garis kecewa pada air mukanya. Fateh terkesima. Teringat dia kisah Jaafar bin Abi Thalib dalam ghazwah8 Mu’tah. Walaupun kedua-dua tangannya dicantas musuh, panji yang diamanahkan oleh Rasululah tidak dibenarkan mencium tanah. Dipeluk panji dengan kedua-dua lengannya. Rasa kagum pada sahabat nabi yang bergelar At-Tayyar9 itu kini turut singgah pada Safiyya.

Abi ada datang menziarahiku?” suara gadis itu sedikit kendur. Safiyya dalam keadaan tidak sedarkan diri ketika dia dihantar ke hospital tempoh hari. 

“Err...” Fateh gugup. Dia hilang bicara. Sebetulnya Basil Mustapha tidak pernah kembali sejak dia menghantar anak gadisnya.
“Apa kamu bimbang aku tidak tega mendengar berita kesyahidannya?” Safiyya menduga. Khali10.
“Bahkan itu jawapan yang paling aku nanti,” sejenak pandangan mereka bersatu.
“Aku tidak punya jawapan untuk soalanmu itu. Yang pasti, abimu tidak pernah kembali sejak dia menghantar kamu ke sini,” Fateh gagahi diri untuk berterus-terang. Lebih dua puluh hari Safiyya menanggung derita akibat peluru yang terbenam di bahu kanannya. Andai Basil Mustapha, ayahnya lewat sehari menghantarnya di Musytasyfa Al-Syifa itu, Safiyya bakal kehilangan anugerah Allah itu. Otot tangannya  terurai. Tisu dagingnya mati dan saraf tangan Safiyya hancur lumat. Semuanya gara-gara bedilan  rejim zionis yang menggila di Gaza. Fateh tambah bengang apabila mengetahui Safiyya pernah cuba dihantar menjalani pembedahan di hospital Kaherah, Mesir melalui pintu sempadan Rafah beberapa hari selepas terkena tembakan. Namun gara-gara sekatan di sempadan, Safiyya gagal dibawa keluar dan tersadai tidak terbela di pintu sempadan Rafah sebelum Basil Mustapha membawa Safiyya kembali ke Gaza.

“Aku sedang membantu ummi di kedai runcit kami ketika tiba-tiba kami dihujani tembakan peluru si zionis. Ummi terkorban. Begitu juga adikku Soufiyyan,” Safiyya membetulkan jilbabnya yang hampir melorot ke belakang. Beberapa helai rambut yang terjurai di dahi segera disusup ke dalam jilbab hitamnya. Cekatan11 Fateh membuka balutan di tangan Safiyya. Bekas luka dicuci penuh berhati-hati. Lurah-lurah kecil terbentuk di dahi Safiyya. Dia menyeringai kesakitan.
 
Jabeliya, tempat tumpah darah Safiyya ialah kawasan terawal yang menjadi sasaran bedilan tentera Israel. Kawasan yang suatu masa dahulu meriah dengan rimbunan pokok zaitun, deretan rumah dan beberapa bangunan kilang kini menjadi padang jarak padang terkukur. Tiada yang tersisa melainkan serpihan-serpihan batu bata yang berselerakan di sana sini.

“Aku bersimpati terhadapmu, Safiyya. Begitu juga dengan mereka yang senasib denganmu,” Fateh meluahkan rasa simpati. Wajah Safiyya diseluruhi. Senyumannya yang kini membuat Fateh tidak lena tidur malam. Lirik matanya benar-benar buat Fateh tidak keruan. Fateh dapat merasakan denyutan jantungnya menyalahi tempo12 setiap kali berhadapan dengan gadis dari Desa Jabeliya itu. Kadang –kala lidahnya jadi kelu ibarat mulutnya penuh disumbat batu. Keteguhannya memelihara syariat Ilahi membuatkan Fateh tambah jatuh hati. Biarpun sakit dan berada dalam kesulitan suasana perang, jilbab masih lekat di kepala. Saat itu dia terkenang  Welma, kekasihnya. Welma tidak kalah jika hendak dibandingkan dengan Safiyya. Cuma bezanya, Welma lebih selesa membiarkan rambutnya yang ikal ditayang di khalayak.  Welma lebih senang mengenakan skirt pendek dan menampakkan kulit kaki yang halus dan gebu. Mungkin kesalahan tidak boleh seratus peratus diletakkan atas pundak13 Welma. Pemakaian jilbab sememang diharamkan di negaranya. Welma juga sepertinya, jauh dari biah14 Islamiah dek dasar-dasar negara yang tidak memihak kepada syariat samawi15.

“Aku juga bersimpati terhadapmu, Fateh,” Fateh sedikit tersentak. Wajah Welma hilang dari pandangan.
“Kamu bersimpati terhadapku?” Fateh kebingung-bingungan.

 
 
panglima
 


“Hakikatnya Fateh, kita sama-sama diserang. Bezanya, kami di Palestin diserang secara fizikal sedang umat Islam di luar sana diasak secara halus,” Safiyya mengurut-urut lembut tangannya yang telah selesai berganti balutan. Fateh mengangguk-angguk kecil.

“Contoh paling mudah,  budaya hedonisme.. Umumnya, ideologi hedonistik ini memfokuskan kepada perkara yang boleh meningkatkan keseronokan dan mengurangkan perkara-perkara yang menjuruskan seseorang kepada kesedihan (increasing pleasure and reduce pain). Tanpa umat Islam sedari, mereka telah  disuntik  dengan doktrin16 ini. Al-hasil, lahirlah golongan umat yang tidak berpijak di bumi realiti. Mereka meletakkan simbol  keseronokan serta kemewahan sebagai satu prioriti dalam hidup. Hidup bersandarkan angan-angan. Maka benarlah sabda Baginda SAW junjungan kita, kebaikan generasi pertama umat ini kerana adanya cita-cita untuk syahid dan keimanan yang tidak berbelah bagi. Binasanya generasi akhir umat ini kerana adanya sifat bakhil dan banyak berangan-angan,” Safiyya menghela nafas. Fateh membisu. Hanya otaknya ligat mencerna bicara Safiyya.

“Cuba kau teliti semula sejarah empayar Islam.  Fateh, kau akan dapati bahawa jatuhnya empayar Islam sama ada kerajaan Abasiyyah ataupun Kerajaan Turki Uthmaniyyah tidak lain dan tidak bukan adalah kerana pemimpin dan rakyat ketika itu menganuti aliran ini. Hidup berpaksikan keseronokan dan kemewahan. Enak tenggelam dibuai hiburan melampau. Maka, suburlah penyakit dalam hati yang disebut Nabi sebagai wahan. Cintakan dunia dan takutkan mati. Percaya atau tidak, ideologi inilah yang mengunci bicara, memaku gerak tindak para pemimpin Islam hari ini. Menikus di hadapan Israel kerana bimbang untuki maju ke hadapan membantah.  Khuatir segala keselesaan yang dikecap akan lenyap,” suara Safiyya sedikit keras. Renungannya tersimpan amarah yang tidak terungkap. Fateh terus selesa mengambil sikap mendengar. Fateh hampir lupa, Safiyya mahasiswa tahun akhir dalam bidang sosiologi dan sejarah di Universiti Islam Gaza. Sebelum sempat menamatkan pengajian, bangunan kuliah ranap tersungkur di dada bumi.

“Jihadmu bukan di sini, Fateh,” lemah kedengaran di hujung suara gadis dari desa Jebaliya itu. Otot dahi Fateh tegang. Mulutnya yang sedikit ternganga cepat-cepat digetap.

“Apa salahkah aku ingin menjadi Salahuddin Al-Ayubbi?” Fateh akhirnya menzahirkan rasa tidak puas hati yang bergulat dalam diri. Safiyya tersengih. Fateh rasa seolah-olah cita-citanya diperkecil-kecilkan. Seolah-olah dia tidak layak untuk menyimpan impian setinggi itu.

“Aku lebih suka engkau menjadi Al-Fateh. Sesuai dengan namamu Fateh,” ujar Safiyya dalam nada berseloroh.

“Sultan Muhammad Al-Fateh?” Fateh ingin kepastian.

“Aku hargai pengorbananmu datang menjejakkan kaki di bumi Palestin ini untuk membantu kami. Ya, sememangnya di sini kami memerlukan bantuan pakar perubatan sepertimu. Namun, antara sedar atau tidak, umat Islam di luar sana jauh lebih sakit dari kami yang sedang terlantar di hospital ini. Mereka lebih perlukan rawatan dan perhatian, Fateh” Safiyya kembali serius.

“Kota Konstantinopel hanya berjaya dibuka setelah 800 tahun dikhabarkan Rasulullah SAW. Sultan Muhammad berjaya membuktikan kebenaran sabda baginda dengan usaha yang tidak sedikit. Sejak kecil baginda telah disuguh17kan bahawa bagindalah yang akan membuka Konstantinopel. Malah kelahiran Salahuddin sendiri telah dirancang seawal zaman Imam Al-Ghazali. Inilah jihadmu, Fateh. Di bahumu tergalas satu tanggungjawab untuk merancang dan melahirkan generasi sehebat Al-Ayyubi dan secekal Al-Fateh. Hanya generasi berjiwa besar seperti mereka sahaja  yang dapat membumikan cita-cita seluruh umat Islam yakni melihat masa depan menjadi milik Islam,” berdiri bulu roma Fateh mendengar hujah Safiyya. Lafaz takbir perlahan-lahan mercup18 di tubir bibirnya.

“Aku akan pulang ke Turki dalam tempoh masa terdekat ini,” Fateh menelan air liur. Fateh nekad pagi itu dia akan berterus terang tentang isi hatinya.

“Safiyya, sudikah engkau mengikut aku?” kerongkongnya perit. Awalnya, Safiyya tidak menunjukkan sebarang reaksi. Lambat-lambat Safiyya mengangkat muka, memandang tepat wajah Fateh.

“Maafkan aku, Fateh, aku harus terus tinggal di sini. Di sini jihad aku bermula dan bertapak. Pulanglah engkau ke tanah airmu. Aku ada perjuangan aku dan engkau ada perjuangan engkau. Biarpun perjuangan berbeza tetapi matlamat kita sama. Setiap kita harus menjadi secekal Al-Fateh dan segagah Al-Ayyubi andai kita mahu menawan kembali Baitul Maqdis. Anggaplah Palestin hari ini ibarat Konstantinopel. Setiap umat Islam seharusnya bercita-cita untuk menjadi Al-Fateh dan paling tidak pun menjadi seperti tentera-tenteranya. Bukankah Sultan Muhammad Al-Fateh itu sebaik-baik raja yang memimpin sebaik-baik tentera?”  Safiyya tega dengan keputusannya. Fateh tahu dia tiada upaya mengubah fikiran Safiyya. Dari awal lagi dia boleh mengagak apa jawapan yang bakal diterima. Biarlah. Sekurang-kurangnya dia tidak terus berteka-teki dan menyimpul andaian sendiri.

“Aku hormati keputusanmu,” awan pilu berarak menyelubungi wajah Fateh. Fateh berlalu sambil membujuk19 kalbu. Fateh tidak menyangka itu pertemuan terakhir mereka. Safiyya menghilangkan diri sejak itu. Tiada siapa nampak kelibatnya lagi di musytasyfa. Fateh dirundung rasa bersalah. Namun, Fateh yakin Safiyya pergi bukan kerana jauh hati dengannya.

Salahudin

Abi! Abi!” Fateh menoleh. Seorang kanak-kanak lelaki menerpa ke arah Fateh yang sedia mendepangkan tangan. Welma ayu dalam jilbab hijau pucuk pisang mengekori kanak-kanak itu di belakang. Jubahnya beralun-alun ditiup angin. Tubuh kecil itu dirangkul Fateh. Bertubi-tubi ciuman Fateh singgah di pipinya.

“Siapa yang akan menawan Baitul Maqdis?” Fateh separuh menjerit. Soalan itu seringkali singgah di cuping telinga anaknya.

“Saya, abi!” sambut anak kecil seperti biasa. Tangannya dijulang tinggi-tinggi. Satu ciuman singgah dipipi munggilnya.
“Kamu pasti, anakku?” Welma mengangkat kening sambil merapatkan wajahnya ke wajah anaknya sehingga dahinya mencecah dahi anaknya.

“Saya pasti ummi kerana saya Salahuddin Al-Ayubbi zaman ini!” Salahuddin petah membalas walaupun sedikit pelat. Gelak tawa mereka beranak-pinak.

"Terima kasih, Safiyya. Moga perjuanganmu dan perjuanganku tidak sia-sia," bisik hati Fateh. Tangan Welma dirangkul. Salahuddin mengeliat kecil dalam dukungan Fateh. Beriringan mereka berjalan meninggalkan Selat Bosphorus bersama adunan semangat Al-Fateh dan Al-Ayubbi.
 

Glosari:
  1. Bosphorus - Selat Istanbul; sebuah selat yang memisahkan Turki pada bahagian eropah dan bahagian Asia; menghubungkan Laut Marmara dan Laut Hitam
  2. Konstantinopel - nama lama bagi Instanbul
  3. bersipongang - bergaung, bergema
  4. jihat - arah, pihak, sisi
  5. Atma - jiwa, nyawa
  6. musytasyfa - hospital
  7. pandak - pendek
  8. ghazwah - perang
  9. At-Tayyar - yang terbang
  10. Khali - bapa saudaraku; panggilan kepada bapa saudara sebelah ibu
  11. cekatan - cekap, cepat membuat kerja
  12. tempo - irama, rentak
  13. pundak - bahu
  14. biah - persekitaran
  15. syariat samawi - agama langit
  16. doktrin - prinsip atau kepercayaan yg dianggap benar dan satu-satunya yg dapat diterima
  17. disuguhkan - ditonjolkan, disediakan, dipaparkan
  18. mercup - timbul atau lahir dengan tiba-tiba
  19. membujuk - memujuk

Belajar Dari Luqman Al-Hakim


Bismillah...

Segala puji buat Maha Suci Allah, tuhan sekalian alam, pencipta dan pentadbir semesta. Tiada sesuatu berlaku tanpa izinnya, segala sesuatu berlaku dengan izinnya jua, Dia tuhan Maha Kuasa, kita hamba maha hina!. Selawat dan salam buat baginda, insan agung pekerti mulia, Muhammad Rasulullah SAW.

Saya menjadi senang menulis apabila termotivasi dengan sesuatu, dan kali ini begitu juga, semoga menjadi teguran dan ingatan buat diri sendiri, jua buat sahabat Qurra' diluar sana. Luqman al Hakim banyak nasihatnya, sampaikan namanya menjadi salah satu nama surah dalam kitab suci al Furqan. Namun seringkali nasihat2 dari kalamullah itu dipandang sepi, hanya menjadi bicara, kuliah dan tulisan semata, praktikalnya ramai yang gagal mengikuti, setuju?

Saya berharap, tulisan ini tidak menjadi begitu, jadi saya amanahkan kepada Qurra' sekaliannya untuk mengamalkan sesudah dibaca nanti, saya bukan memaksa, tetapi Allah yang menuntut segala yang benar itu untuk diamalkan, setuju?, atau kalian tidak setuju yang kita wajib mengikuti yang haq?, jika begitu sila muhasabah diri kembali. Kisah yang saya suka untuk berkongsi kali ini adalah kisah Luqman al Hakim, anaknya dan keldai. Ia adalah kisah yang sangat mengesankan saya dalam bertindak dan menghadapi pandangan manusia.





Dalam mendidik anaknya untuk berhadapan dengan pandangan manusia, Luqman al Hakim telah membawa anaknya dan keldai ke pasar tempat orang ramai. Mulanya, Luqman al Hakim telah menaiki keldai itu, anaknya pula yang mengendalikan keldai itu sambil berjalan kaki, maka orang ramai berkata :

" Inilah orang tua yang tidak mengasihani anaknya, dia bersenang lenang di atas keldai, anaknya pula berjalan kaki! "

Berikutnya, Luqman al Hakim menaikkan anaknya ke atas keldai dan beliau sendiri pula yang mengendalikan Keldai dengan berjalan kaki, maka orang ramai berkata :

" Sungguh biadap anak itu, orang tua dibiarkan berjalan kaki, dia pula bersenang lenang di atas keldai! "

Seterusnya, Luqman al Hakim bersama anaknya menaiki keldai itu bersama sama, maka berkata pula orang ramai :

" Lihat!, seekor keldai membawa dua orang!, alangkah siksanya keldai itu membawa beban berganda! "

Akhirnya, Luqman al Hakim dan anaknya tidak menaiki keldai itu dan membiarkan ia kosong saja, orang ramai berkata lagi :

" Alangkah anehnya, keldai dibiarkan kosong tidak ditunggangi, tuannya pula berjalan kaki saja!"

Apa kalian dapat dari kisah ini?, saya dapat sangat banyak, dan saya mohon berkongsi sendikit. " Ridhannas ghoyatun la tudrak! ", itu kata pepatah arab yang mampu menerangkan kisah ini, maksudnya " Kepuasan atau persetujuan dari SEMUA pihak yaitu manusia adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai ". Inilah yang kita katakan pandangan manusia, pandangan yang selalunya silap, jika dibandingkan dengan pandangan Allah. Sangat benar, pandangan manusia itu sering berbeza beza, setiap apa yg dilakukan pasti ada saja yang kurang bersetuju, mungkin majoriti, mungkin juga minoriti, tapi hakikatnya pasti ada perbezaan.

Melihatkan kisah ini, saya tidak mengatakan yang orang ramai yang memberi komen2 itu jahil atau silap, ada benarnya setiap komen itu bukan?, ya, memang ada benarnya, saya akui itu, tetapi setiap komen itu datangnya dari pandangan manusia yang pastinya banyak kekurangan, saya mahu tanya, jika orang ramai itu tahu kenapa Luqman al Hakim berbuat demikian, yaitu utk mendidik anaknya, adakah komen yang sebegitu akan diberikan?, pasti tidak bukan?...begitulah manusia, ia tidak mengetahui apa yang terselindung, apa yang tersembunyi.

Apabila berhadapan dengan pandangan manusia dalam menilai sesuatu, apa yang dikatakan mungkin sangat jujur, namun hakikatnya, manusia akan berkata dengan apa yg dia tahu dan lihat sahaja, sedangkan mungkin masih banyak perkara yang tersembunyi yang tidak ia ketahui dan fahami, ia mungkin satu bentuk kejujuran, namun jujurnya pendapat itu bukanlah boleh menafikan pandangan Allah. Kerna inilah kita perlu sentiasa memohon untuk melihat dengan pandangan Allah yang sentiasa benar, namun seringkali pandangan Allah itu akan diganggu gugat syaitan laknatullah, kerna itu sumpah setia syaitan, memalingkan manusia dari kebenaran, ia bukan silap manusia lain, bukan silap siapa2, tetapi silap kita sendiri jika masih mahu melihat dengan pandangan manusia yg serba kurang. Kitalah yg lebih tahu situasi yang sebenar, dan Allah lah yang lebih2 lagi Maha Mengetahui.

Kejujuran perlu datang dengan pakej hikmah, ikhlas, dan benar. Tidak bijak jika jujur datang tanpa tiga perkara itu. Malah kejujuran yang sebenar adalah kejujuran yang membuat diri lebih dekat dengan pencipta, apakah boleh dikatakan kejujuran itu membawa manfaat kirannya seorang Kristian datang berdakwah kepada kita, seterusnya dengan jujur mengatakan bahawa agamanya lah yang benar, kerna itu yang dia 'iktiqadkan, adakah itu bentuk kejujuran yang kita mahu mempercayainya dan terus memeluk agama kristian?, itu contohnya, namun pokoknya, pandangan manusia seringkali tersilap, pandangan Allah adalah yang haq, jadi pandangan mana kita mahu ikuti?. Lihatlah dengan hati yang dipandu Allah.

Berkata Luqman al Hakim kepada anakandanya selepas kisah keldai di atas :

" Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T sahaja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu "

Maksud sabda Rasulullah SAW :


Dari Ibnu Abbas radhiAllahu `anhu, katanya: Pada suatu hari aku berada dibelakang Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam (boncengan), lalu baginda bersabda: "Wahai anak, peliharalah Allah nescaya (Dia) akan memelihara kamu, peliharalah Allah nescaya (Dia) akan berada dihadapan kamu, dan jika engkau memohon maka memohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah, dan ketahuilah bahawa sekiranya umat berkumpul (bersepakat) untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, nescaya mereka tidak akan mampu berbuat demikian melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan (ditakdirkan) oleh Allah, dan sekiranya umat berkumpul (bersepakat) untuk mendatangkan bencana keatas kamu, nescaya mereka tidak akan mampu berbuat demikian melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan (ditakdirkan) oleh Allah. Dan telah diangkat segala pena dan telah kering segala buku."
HR : Imam Tirmidzi

Berhadapan dengan kehidupan, kita sememangnya dituntut untuk saling mengingati antara satu sama lain. Inilah fitrah kejadian manusia yang jika kita lari daripadanya, maka ia akan merosakkan kehidupan. Lengkap melengkapi antara satu sama lain, menampungi kelemahan yang lain dengan kelebihan kita, dan mengizinkan untuk kelemahan kita ditampungi oleh kelebihan insan yang lain. Manusia tidak dijadikan Allah berbilion bilion ramainya untuk hidup sendiri tanpa mengendahkan yang lain. Namun, dalam berkata dan menzahirkan pendapat, ia perlu datang dengan pengetahuan yang benar, barulah ia bakal membantu, jika bicara tanpa ilmu yang cukup, tidak memahami situasi dengan sebenar benarnya, maka apa yg diperkatakan mungkin tidak membantu bahkan merosakkan.

Maksud sabda Rasulullah SAW:


" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkatalah perkara yang baik, atau lebih baik ia diam sahaja "
HR : Bukhari & Muslim





Saya memohon untuk sentiasa dibimbing Allah, dan bimbingan itu disekalikan dengan kemudahan untuk melaksanakannya, saya berusaha untuk itu. Saya juga pohonkan agar bimbingan, panduan, dan kemudahan dari Allah untuk sahabat sekalian, doakan saya juga. Semoga kita sentiasa melihat dengan pandangan Allah, dan semoga syaitan tidak mampu mengganggu gugat apa yang datang dariNya. Sesungguhnnya yakin itu dari Tuhan, keraguan itu dari syaitan, maka pilihlah apa yang datang dari Tuhan. Tetapkan hati saya, tetapkan hati kami, dan tetapkan sahabat seluruhnya dengan keyakinan dariMu, Allahumma ameen! :)

Maksud firman Allah SWT :

" Dan jika Allah kenakan bahaya kepada engkau maka tidak ada yang dapat melepaskannya melainkan Dia. Dan jika dia mahukan kebaikan kepada engkau maka tidak ada yang dapat menolak kurnianya itu "
Yunus : 107

Sayang Kawan Perempuan, Tinggal-tinggalkan





"Sayang, sayang... kenapa kita tak pernah keluar berdua?
Tengok diorang tu, pergi mana-mana pun berdua je, sweet kan? Kenapa kita tak macam tu?
Kawan honey kan, nak pergi mana-mana mesti boyfriend dia temankan. Bukan setakat PAUN, nak pergi ‘potostet' pun boyfriend dia temankan. Sweet sangat! Romantic couple! Kan? Kan sayang kan? Mesti diorang tak pernah gaduh, sweetnyeee.....
Kenapa sayang tak nak keluar dengan honey,teman honey jalan-jalan, shopping... tak macam boyfriend lain buat kat girlfriend diorang? Sayang malu keluar dengan honey ek? Honey tau la honey tak cantik.... Hmm...."


***IKLAN ABIS, TAPI SEBAB TAK SANGGUP TENGOK CERITA TERSEBUT, TUKAR CHANNEL***
 
 
 
"Ustaz, boleh tak sebenarnya lelaki dan perempuan keluar berdua? Tak kisahlah diorang couple ataupun tidak. Boleh tak? Keluar sebab ada urusan kerja ke, saja-saja ke, tapi tak buat apa-apa. Means tak sentuh-sentuh, just borak-borak je..."
 
"Hmm... Drama sebelah tadi pun cerita pasal lelaki perempuan keluar berdua jugak".


**** PENONTON TERCENGANG! ****
 


"Oklah, oklah, ustaz jawab insyaAllah...
Tapi kamu nak ustaz jawab ikut ilmu ke nafsu ke exclusive?"

"Exclusive hape plak tu ustaz?"
"Ok satu-satu ye? Mula-mula,jawapan ikut nafsu dulu. Kalau ikut nafsu, EH, MESTILA BOLEH! BUKAN BUAT APA-APA PUN KAN??!!!?"
"Astaghfirullah terkejut saya, ustaz ni...."
"Hehe... mestila boleh. Kata kamu tadi diorang tak buat apa-apa pun kan? Takpelah, takkan tak boleh keluar berdua kot, nak pergi makan-makan ke, apa ke, ye dak? Lagi pulak kalau ada kerja, ada urusan, apa salahnya berdua, bukannya cakap benda bukan-bukan pun... kan?"
 
"Err, ustaz tanya saya ke tu? saya nak jawab apa ni? Blurr kejap, heh...."
"Tapi kalau jawab ikut ilmu, Nabi Muhammad SAW ajar kita untuk ‘berjaga-jaga' dalam perhubungan antara lelaki perempuan. Didalam pergaulan sehari-hari antara lelaki dan perempuan. Disebut dalam bab muamalat, ikhtilat. Dalam satu hadith sahih,
 
Daripada Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah seorang lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya".
 
(Hadis Riwayat Bukhari & Muslim)
 
Di dalam riwayat yang lain,
Daripada Jabir bin Samurah berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah salah seorang daripada kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya".
 
(Hadis Riwayat Ahmad &Tirmidzi dengan sanad yang sahih)
 
Di dalam surah An-Nur surah yang ke 24 ayat yang ke 30 Allah bagitau,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
 
Ayat lepas tu Allah nasihat kaum Hawa pula untuk menjaga pandangan....
"Sedangkan Aisyah, yang digelar Ummul Mukminin, ibu orang-orang mukmin, pun menggunakan tabir untuk menyampaikan ilmu pada para sahabat yang lelaki setelah kewafatan nabi. Para sahabat yang mempunyai iman setinggi gunung, pun mengambil langkah ‘berjaga-jaga' dalam perhubungan antara lelaki perempuan. Bukan menyuruh bertabir, tetapi ‘berjaga-jaga' dengan mengelakkan dari ‘berdua'. Kerana lelaki di zaman sekarang tidaklah lebih hebat dari para sahabat, perempuan pula tidaklah setanding iman Aisyah".
 
"Berdua pasti akan ada yang ketiga. Syaitan tidak menghasut playboy sahaja, ulama' pun tidak terkecuali. Cuba bagi seorang perempuan duduk dengan seorang ulama'. Mampu beliau tahan 'fitrah'nya selama setahun? Sebulan? Seminggu? Sehari pun masih ragu-ragu jika tiada ikatan yang halal".
 
"Kalau jawab ikut ‘exclusive', Allah nasihatkan jangan mendekati zina bukan bermaksud jangan berbuat zina. Tetapi Allah bermaksud, jangan ‘pergi ke arahnya'. Sebab? Yang pertama, kamu akan cenderung melakukan zina. Sebab yang kedua,adalah kerana itu akan menimbulkan fitnah".

Cakap-cakap orang...
Apa kata orang bila nampak lelaki perempuan berdua?
Apa terdetik di hati orang yang melihat mereka berdua?
Adakah orang akan tahu mereka berbincang tentang apa?
Adakah orang akan sangka mereka cuma berbual sahaja?
 
"Yang baik akan bersangka baik dengan mereka, ‘mungkin hal persatuan agaknya'...
Tetapi yang tidak baik, apa yang difikirkan mereka?
Inilah yang Allah nak elakkan, ‘peluang-peluang' untuk orang mengata.' Peluang-peluang' untuk orang berdusta. ‘Peluang-peluang' inilah FITNAH".
 
"Fitnah ini tidak memberi kesan pada lelaki.
But women? Kita bercakap soal ‘exclusive'. Seorang perempuan, adalah seperti mutiara yang tersimpan kemas. Mahu menikmati ketenangannya, menyentuh emosinya, mendengar kemanjaannya, merasakan kelembutannya, HARUS NIKAH DULU!"
 
"Kenapa ustaz kata lelaki tidak terkesan dengan fitnah ini? Kerana lelaki bebas untuk ‘touch n go' ".

Sudah jemu? Terpulang untuk tinggalkan, cari sahaja alasan, asalkan dapat yang baru. Yang lama konon-konon masih sayang, tapi di hadapan teman-temannya???
"Perempuan tu ke? Ooh... aku pernah keluar berdua dengan dia dulu. Teman dia pergi shopping."
"Perempuan tu? Alah, senang je nak ajak dia keluar, aku pernah keluar dengan dia dulu..."
"Perempuan tu ke? Haha... Aku dah pernah rasa dah..."
"Perempuan tu? Alah, dia minat aku dulu."
"Perempuan tu??? Nampak je baik tu, bekas aku je dulu tu..."
 
" EVEN DIA TIPU DAN REKA CERITA SEKALIPUN KAWAN-KAWANNYA BUKANNYA TAHU! "
"Di mana kaum hawa ketika itu untuk membela diri dan martabat??
Di mana maruah, hak exclusive seorang suami terhadap isteri jika sudah begitu nilai diri?
Lelaki... Di depan sahabat tunjuk hebat, konon dialah lelaki terdahsyat, pernah mencairkan wanita-wanita memikat.
Perempuan... Biar dikerat empat, lelaki tersayang itulah yang paling jujur dan hebat.
Perempuan... Biar dikerat empat, ‘kawan baik' itulah tempat dia curhat.
Perempuan... Biar dikerat empat, sering terlupa mana mimpi mana hakikat.
 
Lelaki selagi belum jadi suami tetap ada peluang untuk ‘berpisah'.
Kalau ditakdirkan berpisah, badan mahupun ruh, apa tinggal untuk bakal suami?
‘Sayang'? Dah bagi kat boyfriend.
‘Keluar berdua'? Dah bagi kat kawan study group.
‘Suara bangun tidur'? Dah bagi kat abang angkat.
Body'? Malasnya nak tutup-tutup, rimasnya pakai baju longgar-longgar.
‘Muka makeup'? Tiap-tiap kali dinner kot??? "
 


**** TERASA PEDAS, TUKAR CHANNEL ****
 
"Sayang sayang..... sayang sayang sayang?"
" Of course sayang.....sayang saaaaaaaaaaaaaaaaaaaayang sayang!"

(Erk....???? Apakah? Gastric juice is over secreted, help!!! )


**** TUKAR CHANNEL BALIK ****
 
"Amatlah rugi orang yang sudah sampai kebenaran padanya namun dia menolak dengan perasaan bongkak dan benci".

Allah menyebut didalam al-Quran,
35 : 24. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.
 
6 : 104. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).
 
"Ustaz, lelaki memang semua macam tu ke?"
"Mungkin tak semua, tapi perempuan kena sentiasa berjaga-jaga. Elakkanlah ‘fitnah' kepada diri sendiri. Dan lelaki pula, harus hormat martabat dan darjat wanita, jaga dan bimbing mereka ke jalan yang benar...."

 
**** BLACKOUT, TUTUP TV ****
 

Guru Teragung

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw suri tauladan yang baik bagi kamu (iaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhirat dan dia banyak menyebut Allah” (al-Ahzab:21)



Begitulah firman Allah yang menunjukkan bahawa susuk tubuh mulia seorang guru teragung untuk seluruh umat manusia yang tidak pernah kenal erti penat lelah dan putus asa dalam mendidik jiwa manusia dengan Islam sehingga kita merasakan keindahan Islam ini sehingga sekarang.

Kisah Hidup

Muhammad bin Abdullah atau Nabi Muhammad saw. dilahirkan dengan keadaan serba kekurangan. Ayahnya wafat ketika baginda masih berada dalam kandungan ibunya, kemudian ibunya pula wafat ketika dalam perjalanan pulang dari melawat kubur bapanya. Abdul Muttalib, datuknya pula wafat ketika baginda sangat memerlukan kasih sayang sebuah keluarga pada usianya 8 tahun, hanya Allah yang tahu hikmah di sebalik peristiwa yang memeritkan ini. Baginda dijaga pula oleh bapa saudaranya yang sangat mencintai dirinya iaitu Abu Talib.

Ketika mendapat wahyu pertama daripada Allah di Gua Hira’ tempat dimana baginda mengasingkan diri daripada perbuatan jahil kaumnya dan untuk berkhalwat bersama Tuhannya. Menggigil seluruh tubuhnya ketika pulang ke rumah dan diselimuti oleh Siti Khadijah isterinya yang banyak berkorban harta benda demi Islam.

Sejak dari itulah perjuangan dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh insan mulia ini dari dulu sehingga kini seluruh umat manusia mengkaguminya sebagai seorang tokoh yang sudah mengubah dunia.

Pengorbanan

Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Rasulullah saw untuk diteruskan oleh kita umatnya. Bagaimana Rasulullah mengajar kita erti kesabaran dalam menghadapi rintangan dalam sebuah pekerjaan, mengajar kita beramal dengan segala kudrat yang ada pada kita dan mengorbankan apa sahaja yang termampu untuk menyebarkan agama mulia ini.

Lihat sahaja peristiwa hijrah yang menyaksikan Rasulullah terpaksa meninggalkan kampung halaman yang sangat dicintainya kerana cintanya baginda kepada Islam dan umatnya. Ketika peristiwa hijrah ke Thoif yang menyaksikan kesabaran yang ditunjukkan oleh insan mulia ini walaupun diherdik dan disakiti oleh penduduk Thoif sehinggakan darah keluar dari kepala baginda sehingga ke buku lalinya.

Baginda sentiasa berada bersama-sama umatnya dalam keadaan senang mahupun susah. Ketika Perang Uhud yang menyaksikan Rasulullah saw dihimpit dengan serangan daripada pihak musuh sehinggakan patah dua batang gigi Rasulullah saw terkena panahan daripada musuh. Baginda turun bersama-sama tenteranya untuk menggali parit ketika Perang Khandak/ Ahzab. Baginda juga bersama-sama mengikat perut yang lapar bersama pengikutnya, biarlah dia orang yang pertama merasakan kelaparan tersebut.

Alangkah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada kita oleh susuk tubuh guru terangung sepanjang zaman ini. Begitu bersungguhnya baginda dalam perjuangan mendidik manusia menuju ke jalan Allah swt..

Wafatnya Insan Mulia

Ketika umat Islam masih memerlukan bimbingannya, Allah lebih sayangkan Baginda. Ketika itu terasa seperti dunia ini terlalu suram, sahabat-sahabat tidak tertahan dengan pemergiannya, Umar yang dianggap sebagai seorang yang garang akhirnya menitiskan air mata kesedihan melihat sekujur tubuh yang mulia yang tidak bermaya menunggu panggilan daripada Allah.

Sebelum baginda menghembuskan nafas terakhir, sempat baginda membisikkan sesuatu kepada Saidina Ali, sepupu yang sangat dikasihinya. Dirikan solat, lindungilah kaum yang lemah dan umatku, umatku, umatku. Akhirnya baginda menghembuskan nafas terakhirnya di atas pangkuan Aisyah. Bergenang air mata seluruh umat Islam ketika itu mengiringi pemergian seorang insan yang sangat mulia dan seorang guru teragung yang banyak mengajar kita tentang kehidupan dan perjuangan menegakkan yang haq dan meruntuhkan yang batil.

Ya Allah kami tahu kami banyak melakukan dosa kepadaMu dan banyak meninggalkan suruhanMu. Ampunkan dosa kami, dan limpahkan rahmatMu keatas junjungan besar kami Nabi Muhammad saw dan berikan baginda kedudukan yang terbaik di sisimu dan kurniakan kami peluang untuk bertemu dengannya suatu hari nanti, sesungguhnya kami sangat merinduinya.

Selawat dan salam ke atas Rasulullah nabi dan juga guru teragung buat kami.